Yuk Belajar Sedikit Tentang Psikologi Anak Mengenai Peer Pressure

Yuk Belajar Sedikit Tentang Psikologi Anak Mengenai Peer Pressure

Meskipun background pendidikan Mom bukan pada bidang psikologi anak, sepertinya wajib bagi Mom untuk mempelajari hal tersebut ketika si kecil beranjak balita. Apalagi jika si kecil sudah mulai masuk sekolah. Banyak hal yang sebaiknya Mom ketahui mengenai perkembangan psikologi balita.

Bukan berarti Mom tidak perlu belajar tentang perkembangan fisik si kecil ya. Mom tetap perlu membaca update artikel terbaru di situs Ibu dan Balita mengenai tumbuh kembang balita secara fisik.

Khusus untuk saat ini, Mom perlu tahu apa itu peer pressure. Jika Mom biarkan si kecil mengalami peer pressure, bukan tidak mungkin perkembangan psikologi si kecil bisa terganggu lho.

Apa Sih Peer Pressure?

Sebelum Mom mengetahui dampak serta bagaimana mengatasi peer pressure, ada baiknya Mom mempelajari dulu apa itu peer pressure. Ini merupakan istilah di dalam dunia psikologi anak di mana anak mengalami tekanan secara sosial. Artinya, anak mendapatkan tekanan dari teman-temannya. Tekanan tersebut membuat anak merasa rendah diri. Ia merasa tidak bisa bergaul dengan teman-teman lainnya lantaran tidak bisa seperti teman-temannya tersebut.

Tekanan seperti ini sangat mungkin terjadi saat si kecil sudah mulai bersosialisasi dengan teman-teman sebaya lainnya. Apalagi jika si kecil sudah masuk sekolah. Kondisi saat ini sangat mungkin terjadi.

Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika peer pressure ini menjadikan anak tidak percaya diri. Ia lebih sering murung dan merasa dikuncilkan dari lingukungan sosialnya. Hal ini disebabkan ia tertekan lantaran tidak sama dengan teman-teman lainnya.

Dalam perkembangan psikologi balita, hal ini sangat mungkin terjadi. Dan bisa saja kejadian semacam ini terulang kembali hingga masa remaja nanti. Walhasil, anak menjadi kurang percaya diri dan bahkan ia bisa memiliki masalah dalam bersosialisasi dengan orang lain, terutama orang yang baru ia kenal. Ia menjadi sulit membaur dengan lingkungan baru.

Tentu hal ini tidak ingin terjadi pada si kecil, bukan? Oleh sebab itu, Mom harus melakukan sesuatu agar si kecil tidak mengalami peer pressure.

Dampak Peer Pressure Pada Psikologi Anak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peer pressure membuat anak merasa rendah diri. Akhirnya, ia merasa tidak bisa setara dan tidak bisa membaur bersama teman-teman yang lain.

Ini hanya dampak awalnya saja. Yang lebih berbahaya lagi adalah ketika peer pressure ini menjadikan anak tidak mampu mengembangkan potensi diri. Ia lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi, ia lebih fokus terhadap kelemahan dirinya sendiri dan melihat kelebihan teman sebayanya. Hal inilah yang membuat anak tidak bisa menggali bakat alami yang ada pada dirinya sendiri.

Jika hal ini dibiarkan, sang buah hati bisa tidak berkembang optimal. Dan ini bisa berdampak pada hal lain, tak terkecuali nilai akademis dan juga secara luas lagi masa depannya nanti. Oleh sebab itu, Mom harus tahu tanda-tanda anak mengalami peer pressure agar masalah ini tidak mengganggu perkembangan psikologi anak.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Peer Pressure

Sebenarnya, peer pressure ini paling sering dialami oleh anak remaja. Ketika ia sedang dalam proses pencarian jati diri, remaja sering sekali meniru orang lain, tak terkecuali temannya sendiri. Dengan cara ini, ia bisa sebaik atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan teman-teman di komunitasnya. Dan akhirnya ia bisa bergaul, membaur, dan memiliki teman.

Namun, ternyata, peer pressure ini juga bisa dialami oleh anak balita lho. Hanya saja, tanda-tandanya saja yang berbeda. Lebih sederhana dibandingkan dengan tanda-tanda remaja yang mengalami peer pressure.

Balita yang mengalami peer pressure biasanya melakukan hal aneh yang tidak biasa ia lakukan. Ia mulai merengek minta dibelikan mainan tertentu, berlibur di tempat wisata tertentu, dan lain sebagainya. Rengekan tersebut sangat mungkin disebabkan karena si kecil mendengar teman-temannya memiliki mainan tertentu atau pernah berlibur di tempat wisata tertentu.

Akan tetapi, rengekan tersebut tidak selalu disebabkan oleh peer pressure. Untuk memastikan apakah si kecil mengalami tekanan atau tidak, Mom perlu lihat dengan siapa ia berteman di sekolah dan perhatikan juga komunitas si kecil.

Mencegah Peer Pressure

Mom memiliki tugas yang lebih ekstra lagi saat si kecil sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebaya yang lain. Mom tidak hanya bertanggungjawab atas perkembangan fisik, tapi juga perkembangan psikologi anak. Bukan berarti Mom harus melakukan over protective. Yang Mom perlu lakukan adalah membekali diri si kecil.

Dengan apa? Yang pertama, membekali dengan rasa percaya diri. Berikan pujian saat anak melakukan hal yang luar biasa. Jangan pernah membentak atau memarahi si kecil saat ia melakukan kesalahan. Hal sederhana tersebut akan membuat si kecil tidak merasa tertekan dengan kondisi teman yang lain.

Yang kedua, Mom juga perlu membekali si kecil dengan pendidikan. Dalam hal ini, bukan pendidikan di sekolah. Mom bisa memberikan wawasan yang luas tentang banyak hal sehingga ia bisa dengan PD nya bercerita tentang hal tersebut. Oleh sebab itu, penting sekali bagi Mom untuk mengagendakan berlibur di taman pintar. Tepat juga jika ibu secara regular membelikan buku-buku bergambar yang bisa memberikan si kecil wawasan baru.

Selain itu, Mom juga perlu meluangkan waktu untuk mengetahui teman-teman bermain si kecil. Dengan demikian, Mom bisa mengarahkan dengan siapa ia bisa berteman lebih akrab dan dengan siapa ia berteman biasa-biasa saja. Jangan sampai ia bersahabat dengan teman yang justru menyebabkan peer pressure yang bisa berdampak buruk terhadap psikologi anak.

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply