Tidak Optimalnya Perkembangan Bahasa Anak Bukan Sepenuhnya Kesalahan Orang Tua

Tidak Optimalnya Perkembangan Bahasa Anak Bukan Sepenuhnya Kesalahan Orang Tua

Tidak jarang balita usia 2 tahun yang belum menunjukkan adanya tanda-tanda bicara. Ada masalah dengan perkembangan bahasa anak tersebut. Kemudian, orang tua mulai mencari tahu faktor penyebabnya.

Yang menarik lagi, banyak mitos yang mulai muncul. Mungkin ibu yang tinggal di Jawa Tengah, terutama di sekitar Magelang, Wonosobo, atau Jogjakarta pernah dengan istilah “sego omong”. Di dalam Bahasa Indonesia, itu namanya nasi bicara. Itu bukan nasi yang bisa bicara tapi nasi yang bisa membuat anak bisa bicara. Nasi seperti ini bisa menjadi obat bagi balita yang mengalami kesulitan belajar bicara.

Ibu percaya dengan hal tersebut? Bagi orang yang memiliki latar belakang ilmu kesehatan sulit untuk mempercayai hal tersebut. Mereka lebih menganggap keterlambatan bicara anak ini disebabkan oleh adanya gangguan pada perkembangan bahasa balita. Dan gangguan tersebut bisa dipengaruhi oleh kurangnya nutrisi yang diperlukan oleh si kecil.

Akan tetapi, masyarakat awam lebih memandang hal ini disebabkan oleh kesalahan orang tua. Ibu bisa lihat banyak sekali gunjingan orang-orang ketika ada orang tua yang memiliki anak yang tidak bisa bicara. Mereka menganggap orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk mengajak anak berbicara. Akibatnya, anak susah bicara. Ia mengalami keterlembatan bicara.

Apakah itu satu-satunya faktor penyebab lambatnya perkembangan bicara anak? Jika mereka mau membuka perspektif lebih lebar lagi, maka mereka akan tahu ternyata bukan orang tua saja yang harus disalahkan. Perkembangan bicara anak dipengaruhi oleh banyak faktor.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkuri bahwasannya orang tua memiliki pengaruh yang begitu besar. Semakin sering anak diajak berkomunikasi, maka perkembangan berbahasanya lebih cepat.

Lalu, apa lagi faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa sang buah hati?

Kecerdasan Anak

Bagaimanapun juga, kecerdasan itu berpengaruh terhadap perkembagan balita secara umum. Tidak hanya dalam hal berbicara, tapi juga yang lain seperti berjalan, memainkan mainan, dan lain sebagainya.

Hal inilah yang membuat orang tua harus berhati-hati memilihkan makanan dan minuman untuk sang buah hati. Tidak semua makanan yang lezat itu baik untuk perkembangan anak. Begitu juga dengan minuman. Yang pasti, susu itu minuman yang harus dikonsumsi oleh balita. Dan untuk anak usia 1-3 tahun di mana pada usia tersebut anak mulai belajar bicara, sebaiknya ia minum susu Frisian Flag Jelajah. Kandungan nutrisinya tidak hanya lengkap tapi juga seimbang.

Untuk memaksimalkan perkembangan otak, anak balita harus mendapatkan omega 3 dan protein yang cukup. Setidaknya dua nutrisi ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan otak anak. Akhirnya, perkembagannya pun lebih optimal, terutama perkembangan berbahasa.

Mungkin ibu menyimpan sebuah pertanyaan mengapa kemampuan berbahasa berhubungan dengan otak? Tentu saja ada hubungannya. Bahasa itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor motorik saja tapi juga kognitif. Anak harus memiliki daya ingat yang tinggi. Daya ingat tersebut dibutuhkan untuk menghafal kosakata yang kemudian ia bisa tiru untuk diucapkan. Jadi, jelas sekali mengapa kecerdasan anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan berbahasa anak.

Kondisi Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial itu bisa dibagi menjadi dua. Yang pertama lingkungan sosial skala kecil, yaitu keluarga. Yang kedua, lingkungan sosial skala besar yang mencakup desa, kampung, atau tempat di mana ibu bertempat tinggal.

Lingkungan keluarga jelas sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam hal berbahasa. Namun, yang tak kalah penting lagi adalah lingkungan skala besar.

Maka dari itu, anak yang tinggal di sebuah lokasi di mana banyak sekali anak sebaya, kemampuan berbahasanya lebih cepat berkembang. Mereka menemukan habitat yang sangat diperlukan. Berbeda dengan anak yang tinggal di lingkungan yang tidak banyak anak sebayanya. Ia hanya berkomunikasi dengan orang dewasa. Padahal, cara berkomunkasinya berbeda. Selain itu, anak juga tidak begitu tertarik untuk bermain dengan orang dewasa. Berbeda jika anak sebaya. Ia lebih bersemangat untuk bermain sekaligus berinteraksi sehingga kemampuan bahasa anak lebih cepat terasah.

Ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang tua yang lebih senang menitipkan anak mereka di tempat penitipan anak. Apalagi mereka seorang pekerja yang harus pergi kerja di pagi dan pulang di sore hari. Mereka bisa saja menyewa jasa baby sitter. Akan tetapi, menitipkan anak di tempat penitipan anak jauh lebih baik. Selain biaya lebih murah, anak juga bisa berinteraksi dengan anak-anak sebaya lainnya sehingga kemampuan berbahasanya akan lebih optimal.

Akan tetapi, menitipkan anak harus hati-hati. Ada kasus di mana orang yang mengelola penitipan anak tersebut tidak merawat anak sebagaimana ia merawat anaknya sendiri. Tentu ibu tidak ingin si kecil hanya diberi makan tanpa diperhatikan dengan baik, bukan? Maka dari itu, ibu harus pastikan tempat penitipan anak yang ibu pilih profesional dan benar-benar menjalankan perannya sebagai pengasuh anak dengan baik.

Terlepas dari itu semua, harus dipahami keterlambatan belajar bicara anak bukan hanya dipengaruhi oleh orang tua. Kecerdasan otak serta kondisi lingkungan juga harus diperhitungkan. Itulah mengapa memilih tempat tinggal itu tidak hanya sekedar memilih rumah tapi juga memilih lokasi. Membeli rumah harus juga membeli lingkungan. Karena lingkungan ini menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimanan anak ibu di kemudian hari. Terutama ketika anak sedang dalam perkembangan bicara, lingkungan sangat berpengaruh.

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply