Tanya Pakar Kesehatan Anak: Gejala Depresi Pada Anak

Tanya Pakar Kesehatan Anak: Gejala Depresi Pada Anak

Tanya pakar kesehatan anak biasanya hanya berfokus pada kesehatan fisik saja. Mengingat tubuh seseorang dikendalikan dari dua arah yakni mental dan fisik, tentu menitik beratkan kesehatan fisik saja menjadi timpang. Pengetahuan mental di Indonesia sendiri sangat minim sehingga wajar saja jika ayah bunda tidak memahami. Depresi merupakan salah satu penyakit mental yang paling tidak kenal umur. Orang dewasa sampai anak terjangkit depresi bisa saja. Sebelum kian parah, seharusnya gejala depresi harus dikenali lebih lanjut.

Kenapa depresi sebenarnya cukup berbahaya ? anak dengan depresi sangat sulit di indetifikasi karena memang tidak terlihat secara langsung. Perilaku anak dengan kondisi depresi memang terlihat normal, biasa saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan apabila hanya sekilas pandang. Padahal, jika ditiliki lebih lanjut lagi ada sesuatu yang tidak beres dengan anak hanya saja tidak diketahui dengan cepat. Umumnya anak yang tidak diperhatikan psikisnya, muncul ke permukaan ketika kondisi sudah sangat parah, bahkan sudah dalam tahap pengobatan yang terlambat.

Apalagi, perilaku depresi yang umumnya sama dengan orang dewasa yaitu rasa sedih dan perubahan mood berlebihan tidak jauh berbeda dengan perilaku anak dengan kondisi psikis normal. Pada masa pertumbuhan sangat wajar jika anak mengalami ‘mood swing’ hanya saja pada perilaku anak dengan depresi, ‘mood swing’ terlalu berlebihan bahkan cenderung dalam, sekali lagi, perilaku ini hanya bisa disadari apabila diperhatikan dengan intens. Gejala yang perlu dikhawatirkan apabila

  • Anak merasa mudah marah, tersinggung, dan mengamuk. Semua orang terlebih anak yang masih dalam kondisi labil bisa saja mengamuk karena hal remeh. Namun ada beberapa anak yang merasa mudah marah bahkan pada hal – hal yang tidak sepantasnya memicu amarah. Semisal saja ayah datang menyapa di kala anak bermain namun reaksi amarah anak di luar batas wajar. Termasuk ciri di dalamnya, Sensitifitas terhadap penolakan sangat tinggi. Anak bisa merasa sangat tidak dianggap hanya karena diminta menunggu sebentar yang baginya berupa penolakan besar padahal bila dianalisa, sebenarnya penolakan yang dilakukan biasa saja.
  • Malas berinteraksi dengan anak anak lain secara sosial, Bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Sebagai orang tua seharusnya paham betul kepada siapa anak lebih nyaman mengadu atau kegiatan yang membuat si kecil merasa aman nyaman. Ayah bunda patut mewaspadai apabila anak mulai bertingkah aneh dengan menolak menemui atau mengikuti kegiatan yang ia sukai. Tentu saja, ayah bunda harus mempertimbangkan faktor bosan, gejala patut dianggap serius apabila nyaris di semua kegiatan anak bertingkah serupa.
  • Perubahan pola makan dan siklus tidur. Yang dimadsud disini Anak menjadi malas makan atau pada beberapa kasus anak malah ingin selalu makan bahkan cenderung makan berlebih. Umumnya gejala satu ini diikuti anak selalu ingin tidur atau anak tidak ingin tidur meski tubuhnya telah menunjukkan tanda tanda kelelahan. Pada beberapa anak terdapat fase dimana anak malah bisa tertidur dalam jangka waktu lama hingga melebihi batas wajar. Terlihat jelas malaikat kecil ayah bunda lebih cepat capek dan kehabisan energi. Terutama pada anak yang masih muda dimana pada usia tersebut justru memiliki energi berlebih walau dokter menyatakan tidak ada masalah dengan organ anak.
  • Sering berteriak teriak protes, dan mulai berani membantah apapun yang dikatakan orang orang di sekelilingnya tanpa ada penjelasan disertai menangis keras tanpa henti. Umumnya ayah bunda termasuk orang di sekeliling hanya menganggap remeh teriakan anak, hanya gejala nakal sepertinya. Bila dilihat lebih dekat, teriakan dan protes anak menunjukkan isi hati. Menyuruh si kecil diam malah memperparah kondisi, layaknya menggarami luka yang sudah berdarah terlebih jika anak tidak biasanya bersikap demikian.
  • Tiba tiba saja menjadi sulit melakukan aktivitas di lingkungan seperti bermain dengan teman teman atau melakukan kegemaran yang dulu sangat ia sukai tanpa henti dikarenakan anak sering merasa tidak berguna, tidak mampu melakukan suatu hal. Beberapa kasus, anak mengaku Sulit berkonsentrasi. Anak membenci kegiatan apapun yang membutuhkan fokus, padahal fokus sangat diperlukan dalam setiap kegiatan. Anehnya, ketika ditanya si kecil sering merasa bersalah terhadap apapun meski sebetulnya jelas jelas bukan salahnya.
  • Sering mengeluh sakit fisik seperti sakit perut dan pusing pusing yang sebenarnya tidak ada yang salah dengan tubuh si anak ketika diperiksa secara medis. Kondisi semakin mengkhawatirkan bila anak , menunjukkan minat pada hal hal berbau kematian dan bahkan menanyakan perihal bunuh diri seperti sang anak ingin mempraktekkan cara tersebut. Perasaan sedih terus menerus dengan keputusan menyerah terhadap hidup berulang ulang tanpa alasan yang jelas.

Gejala – gejala diatas hanya diagnose secara umum, terburu – buru menghakimi kondisi anak hanya menimbulkan kepanikan tidak perlu. Apabila tujuh puluh persen saja gejala mencerminkan perilaku anak, saatnya orang tua berpikir lebih dalam. Dari sekian banyak kasus depresi, tidak banyak yang bisa dilakukan. Beberapa orang tidak lahir dengan kondisi depresi. Orang tua harus mampu menemukan pemicu depresi anak sendiri. Bullying di sekolah bisa saja dialami anak dengan perasaan merasa bersalah yang kental, perlakuan buruk yang didapat anak entah dari guru atau pengasuh juga bisa saja. Bila orang tua yakin betul memerlukan bantuan, tanya pakar kesehatan anak bisa menjadi alternatif yang cukup tepat.

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply