Kenali Langkah Dukung Kecerdasan Balita Demi Masa Depan Gemilang

Kenali Langkah Dukung Kecerdasan Balita Demi Masa Depan Gemilang

Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan, buat dunia pendidikan tak mau ketinggalan. Beragam program pembelajaran digadangkan demi membantu orang tua tingkatkan kecerdasan balita. Masa depan yang sangat mungkin menuntut keahlian di atas rata-rata tentu butuh pendidikan sejak dini. Namun, membayar orang untuk mengajari balita tidak selalu jadi tiang fondasi yang sempurna.

Masa pembelajaran anak pertama kali sebetulnya tidak didapat dari sekolah. Tumpukan pekerjaan rumah dari sekolah si kecil bukan sumber ilmu utama. Tahukah pembaca, sekolah untuk balita jauh lebih baik fokus pada membiasakan buah hati bangun pagi pergi ke sekolah, daripada pusing sendiri memikirkan raport anak. Bukankah, sejak awal, pendidikan balita berasal dari lingkungan rumah, dan hangatnya kasih sayang orang tua?

Jangan salah, sekolah untuk balita bukan hal yang jelek. Keputusan mendaftarkan balita ke sekolah atau tidak sepenuhnya hak orang tua. Pastinya, jangan sampai optimalisasi perkembangan otak balita diserahkan total pada orang lain. Karena, di akhir hari, si kecil akan mencari ayah bunda sebagai idola pertama mereka. Siapkan waktu luang khusus bermain dengan buah hati di tengah padatnya pekerjaan, dan tuntutan di era modern ini.

Tiap detik, menit, jam yang terbuang tak akan pernah kembali. Mesin waktu hingga kini belum berhasil diciptakan, karenanya keterbatasan orang tua terutama mereka yang keduanya bekerja penuh waktu harus dimanfaatkan maksimal. Peran bantu kembangkan kecerdasan anak sangat sulit dilakukan tanpa persiapan. Inilah kenapa ilmu pengetahuan sangat penting untuk mendasari setiap keputusan yang diambil.

Pendidikan tidak harus dimulai dari hal ribet, misalkan saja, waktu bermain. Balita macam mana yang tidak senang dengan permainan, bahkan bisa dibilang kesenangan di masa kanak-kanak didasari mainan. Oportunis secara otomatis menyediakan mainan dari berbagai desain dan karakter demi kepuasaan orang tua dan menarik rejeki dari ayah bunda. Padahal, imajinasi anak bisa jadi lebih dari cukup dalam konteks permainan.

Lucu tapi nyata, harga barang selalu dianggap mencerminkan kualitas. Permainan super canggih yang menyedot kocek tak sedikit kerap diberikan untuk buah hati demi kepuasannya. Sebelumnya, telah dikatakan bahwa imajinasi anak lebih dari cukup untuk bermain, kalimat inilah yang menjadi kunci permainan yang baik untuk balita. Imajinasi anak yang merupakan bentuk kecerdasan pertama dapat diakses maksimal oleh si kecil dengan lingkungan yang mendukung.

Acara televisi tanah air sangat jarang dirancang untuk balita. Bahkan, saluran tv khusus anak-anak sekalipun tidak selalu berakhir baik bagi balita. Lingkungan penuh teknologi dan mainan canggih dengan penggunaan spesifik justru menghambat perkembangan otaknya. Justru, mainan murah seperti krayon dan buku gambar, atau balok dari pasar pinggiran malah bisa kembangkan otak anak dengan lebih baik.

Terlepas dari permainan kesukaan anak, tak ada yang mampu kalahkan masa dengan ayah bunda. Jangan salah, orang tua kadang bisa berikan sesi belajar tanpa memerlukan media berarti. Berhubung masih bicara soal permainan, alangkah baiknya jika orang tua juga buat permainan tersendiri untuk buah hatinya. Misalkan saja, tepuk tangan bergantian, atau buat gerakan tarian menirukan binatang, dan ragam permainan seru bermakna lainnya.

Ayah bunda sebaiknya tidak berfokus pada masalah intelejensi, tanpa perhatian khusus terhadap kecerdasan emosi. Ingat, pada akhir hayat, manusia seperti apa yang aristoles katakan yakni mahluk sosial. Tanpa adanya tutur kata baik nan sopan, memperoleh rekan dalam hidup bisa jadi cukup sulit. Apalagi, tidak ada saat yang lebih tepat untuk mengajari komunikasi di luar usia balita.

Manusia melalui sebagian besar hidupnya untuk meniru orang lain. Orang dewasa berdandan, meniru komunitasnya, remaja menirukan selebriti idolanya, dan anak-anak meniru orang yang dianggap kuat. Balita juga tak jauh berbeda, dirinya menirukan apa yang orang dewasa lakukan dengan anggapan mereka selalu benar.

Tanggung jawab perilaku balita sebetulnya terletak pada ayah bunda dan orang-orang terdekat si kecil. Pastikan bahwa tiap tindakan orang tua layak dicontoh oleh anak kecil. Dari hal kecil, seperti menaruh barang kembali pada tempatnya secara naluri akan diikuti oleh balita, atau mungkin gosok gigi tiap malam bisa memicu rasa perlunya higenitas pada buah hati ayah bunda.

Mulutmu, harimau kamu adalah peribahasa yang cukup terkenal namun benar adanya. Perkataan yang salah tidak hanya menyakiti perasaan orang lain, namun juga menentukan arah kesuksesan dalam hidup. Inilah kenapa, pendidikan verbal terhadap balita bisa dimulai dari dini dengan bercermin pada orang tua.

Sifat meniru balita memang tidak terbatas termasuk dalam konteks tutur kata sekalipun. Perhatikan tiap kata yang terlontar dari mulut ayah bunda, terutama bila balita ada di sekitar. Tak terkecuali, ketika terjadi selisih pendapat diantara orang tua, segera hindarkan dari jangkaun pendengaran buah hati. Ingat, balita memang belum paham, tapi hal ini tak hentikan dirinya dari meniru.

Sususan kegiatan yang rapih dan pendidikan yang mahal tak akan berhasil tanpa fisik yang sehat. Layaknya mesin, operator canggih akan terhambat bila kualitas mesin saja tak mumpuni. Inilah kenapa langkah terakhir namun cukup penting adalah memenuhi kebutuhan nutirisi si kecil.

Sayur dan buah tidak selalu punya hubungan baik dengan balita. Padahal, keduanya merupakan sumber nutrisi otak yang cukup besar demi perkembangan kecerdasaran balita. Tenang saja, kini sudah tersedia susu anak 4 tahun, dengan gizi lengkap siap bantu orang tua optimalkan otak balita.(HN)

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply