Hanya Rangsangan Belajar Anak Balita Yang Diperlukan

Hanya Rangsangan Belajar Anak Balita Yang Diperlukan

Banyak yang bertanya bagaimana cara belajar anak balita yang tepat. Yang pasti, balita tidak disarankan diajari seperti cara belajar orang dewasa di mana ia harus bisa membaca, berhitung, dan lain sebagainya.

Memang tidak bisa dipungukiri banyak orang tua yang menginginkan hal tersebut. Mereka akhirnya memasukkan sang buah hati ke bangku sekolah yang menerapkan sistem pendidikan hampir mirip dengan pendidikan anak dewasa. Dikatakan hampir mirip karena ada target yang harus dicapai seperti kapan harus bisa berhitung, membaca, dan seterusnya. Padahal, secara teori, anak balita, terutama yang usianya masih sekitar 3 tahun itu lebih disarankan untuk bermain saja, bukan belajar akedemis.

Lalu kembali ke pertanyaan yang pertama, bagaimana cara mengajarkan anak balita.

Kunci Dari Proses Belajar Balita

Sebelum lebih jauh membahas tentang cara belajar yang tepat untuk anak balita, ibu harus tahu terlebih dahulu apa kunci proses belajar si kecil. Ini hanya bisa ibu pahami ketika ibu memposisikan seperti anak kecil. Jadi, ibu bisa melihat dari sudut pandang atau perspektif anak kecil.

Coba ibu ingat kembali bagaimana anak mulai belajar bicara. Apakah ibu secara langsung mengajarkan tentang huruf dan bagaimana membunyikan masing-masing huruf? Tentu saja tidak bukan.

Anak balita belajar berbicara dengan cara menirukan bagaimana ibu dan orang dewasa bicara. Jadi, kuncinya hanya saja, yaitu meniru. Proses belajar balita itu diawali dengan contoh kemudian ia tiru.

Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan proses belajar anak-anak yang sudah dewasa. Para ahli pendidikan menyarankan agar anak yang sudah dewasa dibebaskan untuk mencari jalan atau mencari solusi terhadap masalah. Seperti contoh, guru yang memberikan rumus untuk menyelesaikan sebuah pertanyaan matematika. Namun, untuk pertanyaan lainnya, setiap anak bebas mencari jawaban menggunakan rumus-rumus yang sudah disediakan.

Jadi, apa letak perbedaannya? Cara belajar anak balita itu dilakukan dengan cara meniru. Sementara itu, anak dewasa belajar dengan cara berpikir dan menelaah. Hal inilah yang membuat sistem pendidikan akademis yang sering digunakan saat ini tidak tepat jika diterapkan untuk anak balita.

Rangsangan Yang Dibutuhkan

Karena anak balita itu belajar dengan cara meniru, maka ia membutuhkan role model. Tidak lagi role modelnya adalah orang tua. Maka dari itu, perilaku serta bahasa yang digunakan oleh orang tua sangat menentukan bagaimana proses belajar anak balita.

Akan tetapi, ibu tidak cukup dengan memberikan contoh saja. Tentu ibu selama ini sudah berusaha berperilaku yang baik dan berbahasa dengan bahasa yang santun di depan anak. Ini sudah termasuk proses belajar. Akan tetapi, rangsangan lain juga dibutuhkan.

Salah satu rangsangan adalah membuatkan tempat belajar. Memang anak balita tidak seharusnya belajar dengan cara duduk dalam kurun waktu yang lama layaknya orang dewasa. Akan tetapi, ini menjadi rangsangan agar anak tahu ia sedang belajar. Buatkan meja dan kursi belajar. Siapkan bolpen dan kertas. Berikan buku-buku. Buatkan ia sibuk di meja belajar tersebut setidaknya 5 sampai 10 menit setiap hari. Dengan cara ini, maka si kecil akan mulai terbiasa untuk belajar.

Rangsangan yang lain berupa permainan. Dalam hal ini, ibu tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk membeli permainan edukatif. Ibu bisa lihat banyak sekali ide permainan edukatif yang bisa ibu buat sendiri di situs Friso. Berbagai ide belajar balita mulai dari bermain kertas, melakukan aktivitas sederhana, hingga belajar berkreasi bisa ibu dapatkan dari sana. Semua kegiatan ditujuan agar anak belajar secara aktif untuk perkembangan otak serta gerak motoriknya.

Cara merangsang lainnya juga bisa dilakukan dengan memberi contoh. Usahkan agar ada waktu khusus di mana ibu membaca buku dan biarkan anak melihat kegiatan ibu tersebut. Ini akan diingat oleh si kecil hingga dewasa nanti bagaimana orang tuanya mengajarkan pentingnya belajar dan membaca setiap hari.

Lalu, rangsangan apa yang selama ini sudah ibu berikan agar memotivasi belajar balita?

Ciri Khas Proses Belajar Balita

Sekarang ibu sudah tahu bagaimana kunci dari proses belajar balita yang seharusnya diterapkan. Pada intinya, ibu harus buat anak terdorong untuk belajar dan menirukan apa yang perlu dia lakukan sebagai cara untuk berkembang.

Namun, ada satu hal lagi yang tak kalah penting untuk ibu ketahui. Ciri khas dari proses belajar balita itu adalah bergerak. Sang buah hati tidak seharusnya diminta untuk duduk diam.

Maka dari itu, banyak sekali sekolah yang menerapkan sistem pendidikan internasional cenderung mendorong anak untuk terus bergerak. Diciptakan sebuah kurikulum pembelajaran yang bisa membuat anak terus beraktivitas secara fisik. Ternyata, aktivitas seperti ini tidak hanya memicu perkembangan motorik anak tapi juga kongnitif dan nalar anak.

Maka dari itu, perhatikan sekolah yang ibu pilihkan untuk sang buah hati. Bukan karena biayanya murah, dekat dengan rumah, atau gedungnya yang mewah yang menjadi pertimbangan. Ibu harus tanyakan bagaimana kurikulum pembelajaran yang diterapkan di sekolah tersebut. Itu yang paling penting.

Yang pasti, masa balita adalah masa di mana anak berkembang sangat pesat. Para ahli perkembangan balita mengatakan ini adalah masa emas atau golden age. Cara belajar anak balita yang tepat harus diterapkan agar potensi yang ada di dalam diri sang buah hati bisa diasah secara maksimal.

 

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply