Bahasan Seputar Tumbuh Kembang Anak Menyangkut Puasa Di Bulan Ramadhan

Bahasan Seputar Tumbuh Kembang Anak Menyangkut Puasa Di Bulan Ramadhan

Tumbuh kembang anak tidak melulu mengenai perkembangan fisik, bahkan rohani juga masuk di dalamnya. Sebagai orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi orang sehat yang taat kepada Allah, mengajari kebiasaan ibadah sedari kecil tentu menjadi langkah paling utama. Mengingat bulan suci Ramadhan sebentar lagi tiba, tidak ada salahnya memahami lebih jauh mengenai puasa bagi anak.

Sebelum memutuskan kelayakan anak untuk berpuasa, lebih dulu dipahami hukum puasa pada anak – anak.

Shaykh Ibn ‘Uthaymeen berkata:

Seorang anak kecil tidak boleh dipaksa puasa sampai dirinya mencapai usia dewasa (baliqh), tapi boleh diajarkan berpuasa sejak dini jika mampu, jadi mereka (anak – anak) akan terbiasa dan lebih mudah baginya setelah akil baligh. Sahaabah – sebaik – baiknya umat – dulu membuat anak – anak puasa ketika mereka muda.

Pada cerita lain mengenai hukum berpuasa anak yakni ketika Shaykh mendapat pertanyaan yang tak disangka:

Anak laki – laki termudaku memaksa untuk berpuasa meskipun puasa bisa membahayakan jiwanya karena dia sangat muda dan kesehatannya kurang baik. Haruskah saya memaksanya untuk batalkan puasa ?

Shaykh menjawab :

Jika anak anda masih muda dan belum akil baliq, tidak diwajibkan baginya berpuasa, tapi jika dirinya mampu tanpa kesulitan, maka dia harus diajak untuk berpuasa. Shabaah (Golongan manusia yang paling dekat dengan Allah) selalu menyuruh anaknya berpuasa, dan jika anak termuda menangis mereka akan diberikan mainan agar teralihkan.

Dapat disimpulkan bahwa Islam tidak pernah melarang orang tua mengajarkan anaknya berpuasa sejak dini. Bahkan, jika mampu, anak – anak sangat disarankan untuk berpuasa. Ketika anak memang terbiasa puasa sejak kecil, maka kemungkinan besar, saat dewasa tubuh sudah terbiasa menjalankan Ibadah Sunnah. Malah, bisa jadi anak nantinya menjalankan puasa Sunnah tidak hanya bergantung pada Ramadan.

Ketika tubuh anak masih merasa mampu, jangan diberi kelonggaran hanya karena nafsu lapar atau rasa marah merajahi. Orang Tua bisa memanfaatkan mainan kesukaan anak guna memendam nafsu anak terhadap makanan. Anak kecil sangat mudah teralihkan perhatiannya, secara psikologis hal ini juga terbukti.

Sesuai baris Al-Mughni, surat ke empat ayat empat ratus dua belas :

Inilah yang dilakukan sahabat para Rasulullah sallahu alaihi wa sallam (SAW) ketika memperlakukan anak ; mereka akan berkata anak – anak yang mampu berpuasa diharap melaksanakan dan jika salah satu dari mereka mengeluh lapar, mereka memberi mainan untuk mengalihkan perhatian. Tapi, tidak diperbolehkan untuk memaksa mereka jika ternyata melukai mereka (anak – anak) dalam artian perlemahan fisik atau penyakit.

Islam tidak memungkiri bahwa tubuh anak berbeda – beda dan tidak semua anak langsung mampu berpuasa sehari penuh. Nah, apabila anak mulai menunjukkan tanda sakit, perlemahan dalam bentuk apapun, orang tua harus cepat tanggap dan membatalkan puasa anak. Tidak perlu berkecil hati karena memang anak – anak tidak selalu bisa.

Bicara mengenai usia ideal anak berpuasa yang aman bagi pertumbuhan, mari simak riwayat Abu Daawood and At-Tirmithi:

Rasulullah berkata “Perintahkan anak – anakmu untuk beribadah ketika mereka menginjak usia 7 tahun, hukum bila meninggalkan sholat ketika mereka berusia 10 tahun, dan berikan ranjang sendiri.”

Melihat dari riwayat diatas, bisa disimpulkan di usia 7 tahun adalah saat yang paling tepat untuk mengajarkan anak ibadah termasuk puasa. Pada usia 7 tahun, anak sudah mulai bisa berpikir, dan tubuhnya mulai mencapai kekuatan gerak sempurna.

Berikan contoh berpuasa yang baik, dan orang tua berusaha semaksimal mungkin mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar. Dengan pelan – pelan bertahap mengajari dimulai usia 7 tahun, tentu bila tiba – tiba anak akil baliq tentu tidak kaget.

Ada beberapa langkah tersendiri untuk ajari anak berpuasa secara bertahap menurut Dr. Rashâd Lâshîn. Pertama – tama, mulai dari usia 7 sampai dengan 9 bulan untuk pengalaman pertama puasa anak. Tidak perlu langsung ekstrem sampai maghrib, kalau memang anak mampu ya silahkan, tapi jika anak terus merengek dan tidak bisa dialihkan, pilih puasa hingga siang (puasa dhuhur).

Menginjak usia 10 tahun, pertumbuhan anak bisa dibilang cukup maksimal. Metabolisme dan kemampuan anak menahan diri dan beradatapsi cukup baik. Bilamana anak memang terlahir sehat dan kuat, puasa hingga maghrib secara fisik harusnya tidak masalah. Terus dorong anak dengan kata – kata baik seperti “Ayo dek, kamu pasti bisa, tinggal sedikit lagi”.

Perlu diingat, jangan menghukum anak dibawah 10 tahun ketika puasanya batal sebelum maghrib. Pada usia dini, tumbuh kembang psikologis anak berpuasa cukup rawan, dimana anak masih belum bisa membedakan yang baik dan benar. Kalau benar – benar merasa terancam, anak bisa membentuk sikap berbohong dan menipu guna kebahagiaan semu.

Bekali diri ayah dan bunda mengenai ilmu agama. Ingat, ketika ayah bunda saja tidak paham esensi puasa, gimana mau mengajari si kecil. Anak kecil gampang penasaran, sehingga pertanyaan akan banyak muncul, ayah dan bunda harus siap menjawab. Jawaban tidak memuaskan hanya menurunkan niat anak berpuasa.

Dekati anak yang memiliki karakter pendiam. Anak yang senang memendam perasaan biasanya tidak mengeluh namun berbahaya. Sebagai orang tua tanyakan bagaimana kabarnya selama berpuasa. Jelaskan keuntungan dan kenapa Islam mengajarkan puasa. Ketika anak paham, berpuasa bukan lagi masalah. Terakhir, tumbuh kembang anak tidak terganggu dengan puasa selama caranya tepat.

Author

Related

Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Post Reply